Achmasepti Kumala

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Si Belatung

Tadi pagi saat aku berada di dapur, sambil bersih2 bak cuci piring, tiba-tiba mataku tertuju pada seekor belatung kecil, berukuran tak lebih dari 1 cm, menggeliat-geliat dikerumuni puluhan semut merah. Terbersit rasa iba di benakku, tapi entah kenapa, bukannya ku tolong belatung kecil yg sedang kesakitan itu, tapi malah aku penasaran dengan apa yang akan dilakukan belatung itu selanjutnya. Kulihat mahluk putih kecil menyerupai ulat itu, berusaha melepaskan diri dari gigitan tak kenal ampun dari semut-semut itu. Pada awalnya, si belakung hanya menggeliat seolah menahan rasa sakit yang tak bisa kubayangkan jika itu adalah seorang manusia yg digigit ribuan serangga berbisa. Ajaib!!!!! Belatung kecil yg awalnya terlihat lemah dan pasrah menunggu kemayiannya, tiba-tiba seperti mendapatkan energi yang luar biasa dan entah dari mana asalnya. Pelan tapi pasti dia berjalan merayap kian menjauh dari kerubutan semut-semut nakal itu. Aku seakan bisa merasakan, meski menahan sakit karena gigitan semut-semut itu, si belatung ternyata punya keinginan kuat untuk bisa bertahan dr rasa sakit, berjuang untuk hidup dan terlepas dari setangan bertubi-tubi dari mereka. Aku tidak tahu siapa diantara mereka yg memulai pertarungan itu. Yang kulihat hanya adanya sebuah perjuangan hidup. Sedikit demi sedikit....si belatung berjalan seperti menghampiriku, sementara semut-semut itu, satu demi satu melepas gigitannya,...menyerah dan pergi. Sungguh usaha untuk bertahan yang sangat luar biasa. Tiba-tiba aku teringat dengan perjuanganku menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarku. Begitu banyak gigitan bahkan pukulan yang kurasakan di lingkungan ku mengais rejeki..dan aku selalu lebih memilih pasrah, menunggu takdir memberi balasan. Aku jarang memperjuangkan apa yang seharusnya aku dapat...karena aku hanya menunggu mereka akan menyerah dengan sendirinya kemudian sadar bahwa profesionalisme bisa menunjukkan jalannya tanpa perlu memaksa. Aku tercekat sesaat, terus memandangi si belatung, yang berjalan sendiri penuh kemenangan. Seandainya aku sanggup melihat wajah si belatung, mungkin saat itu dia menoleh ke arahku sambil tersenyum sinis mentertawakan kepasrahanku selama ini, atau....apakah justru dia tersenyum manis dan mengajakku untuk tidak menyerah seperti dia. Tuhan beriku gambaran pagi ini dengan indah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Keren abiz

12 Jul
Balas

Waauuuw... Luar biasa. Objek aoa pun bisa jd inspirasi tulisan. Keren..

12 Jul
Balas

Terakasih Bu.

12 Jul

Alhamdulillah, semangat Bu. Insyaallah bisa

12 Jul
Balas

Alhamdulillah, semangat Bu

13 Jul
Balas

Wow .. mantap Bun....

12 Jul
Balas

Terima kasih. Mohon saran perbaikan

12 Jul

Byaarr... .. Membuka hati dan keinginan untuk mulai menulis

12 Jul
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali